Saya memperkirakan rupiah bergerak terbatas di kisaran Rp18.060–Rp18.170 per dolar AS
Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis pada perdagangan Selasa pagi di tengah sikap pelaku pasar yang masih menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan pernyataan pejabat bank sentral AS.
Rupiah turun 6 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp18.115 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.109 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pelemahan rupiah lebih dipengaruhi sentimen global dibandingkan faktor domestik.
“Saya memperkirakan rupiah bergerak terbatas di kisaran Rp18.060–Rp18.170 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp18.100–Rp18.120 per dolar AS. Biasanya masih cenderung lemah terbatas, bukan karena sentimen domestik sepenuhnya buruk, tetapi karena pasar masih menunggu data inflasi AS dan pernyataan ketua bank sentral AS pada 14 Juli,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Menurut Josua, apabila inflasi AS tercatat lebih rendah dari perkiraan dan pernyataan bank sentral AS bernada lebih dovish, rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp18.030 hingga Rp18.080 per dolar AS.
Sebaliknya, jika inflasi inti AS tetap tinggi atau pejabat bank sentral AS menyampaikan sikap yang lebih ketat terhadap kebijakan moneter, rupiah diperkirakan berpotensi melemah hingga kisaran Rp18.180–Rp18.220 per dolar AS.
Pasar saat ini memperkirakan inflasi AS pada Juni melambat menjadi 3,9 persen secara tahunan, sementara inflasi inti diproyeksikan masih bertahan di level 2,9 persen.
“Ini penting karena jika inflasi inti tetap membandel, ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi lebih lama akan menguat, dolar AS kembali diminati, dan rupiah kembali tertekan,” kata Josua.
Selain sentimen inflasi, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor yang menekan nilai tukar rupiah. Harga minyak Brent tercatat naik 3,43 persen menjadi 78,6 dolar AS per barel dan telah menguat sekitar 29,2 persen sejak awal tahun.
Menurut Josua, kenaikan harga minyak berpotensi berdampak negatif terhadap rupiah karena Indonesia masih berstatus sebagai negara pengimpor minyak bersih. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terhadap impor energi, subsidi, inflasi, neraca transaksi berjalan, hingga cadangan devisa.
Di sisi lain, sentimen positif datang dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil.
S&P menilai pelemahan kondisi fiskal dan sektor eksternal Indonesia hanya bersifat sementara serta masih didukung pemulihan penerimaan negara, peningkatan ekspor komoditas, dan komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah tiga persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Meski demikian, lembaga pemeringkat itu juga mencatat rupiah telah melemah sekitar tujuh persen sepanjang semester pertama tahun ini dan mengingatkan agar tekanan pada sektor fiskal dan eksternal tetap diantisipasi.
“Jadi, keputusan S&P membantu menahan tekanan, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah besar-besaran,” ujar Josua.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026